Masyarakat Pertanyakan Perubahan Menu MBG Balita di Desa Ngabean, Kecamatan Mirit
Kebumen Koranjateng.com – (15/12/2025), Sejumlah warga Desa Ngabean, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, mempertanyakan adanya perubahan menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk balita yang dinilai mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Perubahan menu tersebut dirasakan signifikan pada pembagian MBG ketiga yang dilaksanakan pada Senin, 15 Desember.
Salah satu warga menyampaikan keluhannya terkait isi ompreng MBG balita yang diterima. Menurutnya, menu yang disajikan terdiri dari nasi, sayur sawi, tahu, pisang, serta lauk ikan atau ayam tepung. Namun, warga tersebut mengaku tidak mengambil sayur sawi yang disediakan karena dinilai kurang diminati oleh balita.
Selain menu utama, paket MBG balita juga dilengkapi dengan snack kering berupa biskuit Regal dua keping dengan estimasi harga Rp1.000, dua buah jeruk kecil, satu kotak susu UHT full cream Greenfields ukuran 105 ml, serta satu butir telur rebus.
Warga tersebut membandingkan dengan menu MBG pada awal pelaksanaan di wilayah Ngabean yang dimulai sejak 8 Desember lalu. Saat itu, menu dinilai masih cukup layak dan “worth it”, bahkan telur rebus yang diberikan berjumlah dua butir, ditambah kue bermerek, satu susu UHT, serta satu buah jeruk. Kondisi serupa juga dirasakan pada pembagian MBG tanggal 11 Desember yang masih dianggap memadai.
Namun, pada pembagian ketiga tanggal 15 Desember, warga mengaku terkejut dengan perubahan menu yang dinilai jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. “Ini MBG ke-3, Senin 15 Desember, allahuakbar banget,” ungkap warga yang tidak mau disebutkan namanya.
Pengambilan paket MBG balita dilakukan di Balai Desa Ngabean. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak pengelola terkait alasan perubahan menu tersebut.
Sebagai informasi, Program Sentra Pemberdayaan Pangan Gizi (SPPG) yang dikelola oleh Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Kebumen diketahui resmi beroperasi perdana di Desa Winong, Kecamatan Mirit. Masyarakat berharap program MBG balita dapat terus dievaluasi agar tujuan pemenuhan gizi anak tetap tercapai dan sesuai dengan standar yang dijanjikan sejak awal pelaksanaan.
(Red)
