Nongka Nongki Cafe Oase Kuliner baru di Wunut
Klaten, Koranjateng.com - Nongka Nongki bukan sekadar nama, bagi Dimas, pemilik yang menaruh seluruh harapannya pada usaha ini, ia adalah jawaban atas kegelisahan dan pelajaran panjang dari dunia kuliner lokal. Setelah pengalaman pahit di Sri Kumbang yang mengajarkannya bahwa biaya sewa bisa mematikan kreativitas, Dimas memilih kembali ke akar, membuka cafe dan resto di tanah pribadinya di Jl. Janti - Kopen, Wunut. Keputusan itu menurutnya bukan pelarian, melainkan strategi untuk membangun sesuatu yang berkelanjutan dan bermakna bagi komunitas setempat (13/12/2024).
Dari Sri Kumbang ke Tanah Pribadi
Perjalanan Dimas di dunia kuliner bukan cerita instan. Bergabung dengan ekosistem Sri Kumbang memberinya pengalaman operasional, jaringan pemasok, dan pemahaman selera pelanggan. Namun pengalaman itu juga mengajarkan satu hal tegas, lokasi yang bagus tidak selalu menjamin kelangsungan usaha jika beban biaya menekan margin. Dalam kata-katanya, “Saya lelah melihat ide-ide bagus kandas karena angka sewa yang tak masuk akal. Saya ingin membangun sesuatu yang bisa saya kendalikan, dari tanah sendiri.” Keputusan pindah ke lahan pribadi memberi Dimas kebebasan merancang konsep tanpa terikat biaya sewa yang membebani.
Konsep dan Suasana Nongka Nongki
Nongka Nongki lahir dari gagasan sederhana, menggabungkan keakraban angkringan tradisional dengan kenyamanan resto modern. Dimas menekankan bahwa konsep terbuka dan pemandangan persawahan bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari pengalaman yang ingin ia tawarkan. “Makan di sini harus membuat orang berhenti sejenak, menarik napas, dan merasakan senja,” ujarnya. Area makan yang terbuka, kolam kecil untuk bermain air, dan tata cahaya yang hangat saat malam dirancang untuk membuat pengunjung merasa lepas dari hiruk-pikuk kota.
Menurut Dimas, fleksibilitas waktu operasional, buka dari siang hingga malam, membuat Nongka Nongki relevan untuk berbagai segmen, pekerja pabrik yang butuh makan siang cepat, keluarga yang mencari suasana santai, hingga anak muda yang ingin nongkrong sambil menikmati live music ringan. Lokasi di pinggir jalan Utara Umbul Pelem juga menjadi nilai tambah strategis yang memudahkan akses dan meningkatkan visibilitas.
Ragam Menu dan Sentuhan Inovasi
Dimas menegaskan bahwa menu di Nongka Nongki adalah kompromi antara tradisi dan inovasi. Nasi kucing, gorengan, dan lauk kecil hadir berdampingan dengan pilihan berat seperti ikan bakar, ayam olahan, dan bebek goreng. Namun yang menurutnya penting bukan hanya daftar menu, melainkan cara penyajian dan konsistensi rasa. “Saya ingin makanan sederhana terasa istimewa, itu soal detail, bumbu, tekstur, dan cara penyajian,” kata Dimas.
Inovasi juga terlihat pada kombinasi rasa yang mencoba menjembatani generasi, resep tradisional yang disesuaikan dengan preferensi modern tanpa kehilangan identitas lokal. Pelayanan ramah, penataan meja yang fungsional, dan area parkir memadai adalah bagian dari upaya Dimas menjadikan Nongka Nongki destinasi kuliner yang nyaman dan mudah diakses.
Dampak Lokal dan Opini Publik
Dimas mengakui bahwa dukungan warga setempat menjadi modal sosial yang tak ternilai. Menurutnya, respon positif dari komunitas, termasuk pandangan dari para pemandu wisata lokal seperti Ngantilalicaraneturu Tour Guide Community, menguatkan keyakinannya bahwa Nongka Nongki bisa menjadi oase kuliner di Wunut. “Bukan hanya soal menambah pilihan makan, tapi memberi ruang bagi orang untuk berkumpul, beristirahat, dan menikmati pemandangan,” ujar Dimas.
Ia juga melihat peluang ekonomi mikro, kafe ini bisa menjadi panggung bagi UMKM lokal, tempat bazar kecil, atau acara komunitas yang memberi manfaat ekonomi langsung. Bagi Dimas, keberadaan Nongka Nongki harus memberi nilai tambah nyata, bukan sekadar estetika Instagramable. Karenanya dia juga membuka peluang bagi UMKM sekitar yang ingin bergabung dengan kreatifitas yang tidak membebani.
Potensi dan Tantangan ke Depan
Dimas realistis tentang tantangan yang menanti. Menurutnya, lokasi dan konsep yang menarik hanyalah modal awal, kunci keberlanjutan adalah manajemen operasional yang disiplin, pengendalian biaya, dan inovasi menu yang konsisten. “Saya punya pengalaman di pemasaran WiFi dan jaringan lokal, itu membantu, tetapi mengelola dapur dan pelanggan adalah seni tersendiri,” katanya.
Strategi pemasaran yang menyasar segmen lokal dan wisatawan, kolaborasi dengan komunitas, serta acara berkala menjadi rencana yang sedang ia jalankan. Namun Dimas juga menekankan pentingnya mendengarkan pelanggan, umpan balik langsung dari pengunjung menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki layanan dan rasa.
Opini Dimas
Nongka Nongki, dalam pandangan Dimas, adalah lebih dari bisnis, ia adalah pernyataan bahwa kreativitas dan keberanian mengambil risiko yang terukur dapat menciptakan ruang baru di peta kuliner lokal. Dengan modal lahan pribadi, pengalaman, dan jaringan, Dimas berharap kafenya menjadi contoh bagaimana usaha kecil bisa tumbuh tanpa harus mengorbankan kualitas atau identitas. “Saya ingin Nongka Nongki menjadi tempat yang membuat orang pulang dengan perasaan lebih ringan, bukan hanya kenyang, tetapi juga terhibur,” tutupnya. Jika niat dan eksekusi berjalan seiring, Nongka Nongki berpeluang menjadi oase kuliner yang menyemarakkan Wunut untuk waktu yang lama.
( FX Winanto Ipunk )
