Pesan Bijak Imam Syafi’i: Tidak Semua Pendapat Harus Disampaikan


 Lamongan, Koranjateng.com — Sebuah kutipan bijak karya ulama besar Imam Asy-Syafi’i kembali ramai dibahas warganet dan kalangan pecinta literasi Islam. Pesan tersebut berbunyi:


“Jangan berikan pendapat kepada orang yang tidak menginginkannya,

karena engkau tidak akan mendapatkan pujian, dan pendapatmu pun tidak akan memberi manfaat.”


Kutipan yang tersebar melalui berbagai medium digital ini menjadi refleksi bagi banyak orang di tengah maraknya perdebatan di ruang publik—baik secara langsung maupun melalui media sosial. Pesan tersebut mengingatkan kita bahwa sebuah nasihat atau pendapat tidak selalu dibutuhkan, apalagi jika disampaikan kepada orang yang tidak ingin mendengar.


Sebuah ilustrasi yang turut beredar menggambarkan seorang pria yang sedang duduk merenung di atas tebing bersama seekor unta. Gambaran ini seakan melambangkan perjalanan manusia yang sering kali membawa pendapat, tetapi tidak selalu menemukan tempat untuk menyampaikan dengan bijak.


Narasi yang menyertai pesan tersebut menggugah kesadaran:


“Apa yang kamu lihat belum tentu itu yang kami lihat.

Karena mata hanya menangkap bentuk, sementara hati memiliki sudut pandangnya sendiri.”


Pesan ini menyiratkan bahwa perbedaan persepsi adalah hal yang wajar. Tidak semua hal harus dipaksakan sesuai sudut pandang kita. Sebuah nasihat akan menjadi cahaya hanya bagi mereka yang membuka diri untuk menerimanya.


Pesan tersebut juga menyoroti realitas masyarakat modern yang sering merasa perlu mengomentari segala hal, meski belum tentu dibutuhkan. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan sosial dan interaksi digital, di mana banyak orang ingin didengar tetapi enggan mendengar.


“Tidak setiap kebenaran perlu diteriakkan,

dan tidak setiap kebaikan layak dipaksakan kepada yang belum siap menerimanya.”


Dengan demikian, pesan Imam Syafi’i ini dianggap relevan sepanjang zaman. Ia mengajarkan kebijaksanaan dalam berbicara, memberikan nasihat, dan memilih kapan harus diam. Diam pada waktu yang tepat bukan berarti lemah, melainkan tanda kedewasaan berpikir.


Pesan ini menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi bagaimana dan kepada siapa ia disampaikan.



Sunariyanto

Next Post Previous Post

Hot News Today