Diduga Kehabisan Akal, Duet Oknum Wartawan Dan Oknum LSM di Kebumen “Unjuk Kelucuan”, Cari-Cari Kesalahan Rival Tanpa Bukti Akurat
Kebumen, Koranjateng.com – Fenomena menarik sekaligus menggelitik terjadi di dunia pemberitaan lokal Kebumen. Sebuah “duet maut” antara oknum wartawan dan aktivis LSM belakangan ini diduga mulai menunjukkan strategi baru dalam menghadapi rivalnya. Bukan lewat klarifikasi data atau adu fakta, melainkan melalui metode yang cukup unik: mencari-cari kesalahan sekecil apa pun dari pihak lawan, (15/02/2026).
Sejumlah pengamat media lokal menyebut langkah tersebut sebagai tanda bahwa duet tersebut kemungkinan mulai kehabisan bahan untuk menyerang secara substansial. Alhasil, berbagai hal yang sebenarnya tidak terlalu relevan pun dijadikan bahan pemberitaan.
Yang membuat situasi semakin mengundang tawa adalah soal narasumber yang dijadikan rujukan. Beberapa pihak menilai narasumber tersebut justru terlihat kebingungan ketika menjelaskan peristiwa yang disebut-sebut menjadi dasar berita.
“Lucunya, narasumbernya seperti tidak tahu persis kejadian yang dimaksud. Kadang jawabannya muter-muter, kadang malah terdengar seperti cerita yang baru disusun di tempat,” ujar seorang warga yang mengikuti polemik tersebut.
Menurutnya, kondisi itu membuat publik bertanya-tanya mengenai proses verifikasi informasi sebelum sebuah berita dipublikasikan. Pasalnya, dalam praktik jurnalistik yang sehat, narasumber biasanya dipilih berdasarkan kedekatan dengan fakta atau keterlibatan langsung dalam peristiwa.
Namun dalam kasus ini, yang muncul justru sebaliknya. Narasumber yang dijadikan rujukan dinilai lebih cocok menjadi bahan komedi ketimbang sumber informasi yang kuat.
Seorang pemerhati media di Kebumen bahkan menyebut fenomena ini sebagai “jurnalisme hiburan tak disengaja”.
“Awalnya mungkin serius ingin menyerang rival, tapi karena narasumbernya tidak jelas, akhirnya yang muncul justru seperti cerita humor. Publik jadi bingung, ini berita atau sketsa komedi,” katanya sambil tertawa.
Situasi tersebut pun memunculkan berbagai komentar di kalangan masyarakat. Beberapa warganet bahkan menyindir bahwa duet tersebut seharusnya membuka kanal khusus komedi jika memang ingin terus menyajikan cerita-cerita yang mengundang gelak tawa.
Meski demikian, sejumlah pihak berharap dinamika ini bisa menjadi refleksi bersama bagi semua pihak yang berkecimpung di dunia informasi dan advokasi. Kredibilitas media maupun lembaga sosial, menurut mereka, sangat bergantung pada akurasi data, kualitas narasumber, serta kemampuan menyajikan fakta secara objektif.
“Kalau narasumbernya saja tidak tahu kejadian sebenarnya, ya wajar kalau publik akhirnya lebih banyak tertawa daripada percaya,” ujar seorang tokoh masyarakat.
Hingga kini, polemik antara pihak-pihak yang terlibat masih terus bergulir. Namun bagi sebagian warga, drama tersebut sudah terlanjur berubah menjadi tontonan yang kadang lebih mirip panggung komedi daripada perdebatan serius.
(Puspo Lukito)
