Dilema SOP dan Biaya Operasional, PIC SPPG Grenggeng Mengakui Limbah SPPG Grenggeng Dibuang Ke Sungai


 Kebumen, Koranjateng.com – Persoalan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) kembali menjadi sorotan, kali ini terkait pengelolaan limbah di SPPG Grenggeng, Karanganyar. Temuan di lapangan menunjukkan adanya dugaan pembuangan limbah cair langsung ke aliran sungai, yang memunculkan pertanyaan serius mengenai implementasi standar kesehatan lingkungan.


Saat melakukan penelusuran, awak media mendatangi lokasi yang disebut warga sebagai titik pembuangan limbah. Di lokasi tersebut, terlihat pipa paralon mengalirkan air dengan debit cukup deras yang langsung bermuara ke saluran sungai. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga terkait dampak pencemaran lingkungan.


Untuk mengonfirmasi temuan tersebut, awak media kemudian mendatangi fasilitas SPPG Grenggeng dan bertemu dengan AS, selaku PIC (penanggung jawab). Dalam keterangannya, AS mengakui bahwa sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang digunakan saat ini masih bersifat manual.



“IPAL masih manual, karena harga alatnya mahal, bisa mencapai sekitar Rp43 juta,” ujar AS saat dikonfirmasi, Senin (04/05/2026).


Lebih lanjut, AS juga membenarkan bahwa limbah cair yang telah melalui proses penyaringan sederhana dan pengendapan selama satu hari tetap dibuang ke sungai. Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa sistem pengelolaan limbah di lokasi tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah.


Kondisi ini mencerminkan adanya dilema antara kewajiban memenuhi SOP dengan keterbatasan biaya operasional. Di satu sisi, regulasi mengharuskan pengelolaan limbah sesuai standar kesehatan dan lingkungan. Namun di sisi lain, pihak pengelola mengaku terbebani oleh tingginya biaya pengadaan instalasi IPAL yang sesuai spesifikasi.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah pengawasan maupun tindak lanjut terhadap dugaan pelanggaran tersebut. Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah agar pengelolaan limbah tidak berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.


Kasus ini menjadi pengingat bahwa implementasi SOP tidak hanya membutuhkan regulasi, tetapi juga dukungan nyata, baik dari sisi pembinaan maupun fasilitas, agar standar yang telah ditetapkan dapat dijalankan secara optimal di lapangan.


(Ferdi Irawan, S.M.)

Next Post Previous Post

Hot News Today