Dugaan Proyek “Kejar Tayang” di Wonosari–Jatisari Kebumen? Rabat Beton Jalan Kabupaten Kebumen Baru Seumur Jagung Sudah Retak
Kebumen, Koranjateng.com – Dugaan proyek “kejar tayang” kembali tercium di Kabupaten Kebumen. Kali ini datang dari proyek rabat beton jalan kabupaten di ruas Wonosari–Jatisari yang kondisinya sungguh memprihatinkan.
Ironisnya, proyek yang menelan anggaran kurang lebih Rp900 juta dari APBD Kabupaten Kebumen Tahun 2025 tersebut bahkan belum genap satu bulan selesai, namun sudah retak di sejumlah titik. Proyek yang dikerjakan oleh PT. PUTRA HASAN MANDIRI dan diawasi oleh CV. BUMI KARYA CONSULTANT, serta Konsultan Perencana oleh CV. CAHAYA BUANA memang menarik perhatian publik.
Kondisi ini sontak memantik amarah dan kecurigaan masyarakat.
Bagaimana mungkin rabat beton yang seharusnya memiliki daya tahan bertahun-tahun justru menunjukkan kerusakan dini dalam hitungan minggu? Retakan yang terlihat jelas di permukaan beton seakan menjadi bukti telanjang buruknya kualitas pekerjaan, sekaligus memperkuat dugaan bahwa proyek ini dikerjakan asal jadi.
Tak sedikit warga yang mempertanyakan, apakah proyek ini memang dikerjakan dengan standar teknis yang benar, atau hanya sekadar mengejar target waktu demi menyerap anggaran yang sudah “diatur” sebelumnya. Istilah “kejar tayang” pun mencuat, mengingat pola lama yang kerap terjadi: proyek harus selesai cepat di atas kertas, sementara kualitas diletakkan di urutan paling belakang.
Lebih memprihatinkan lagi, dengan nilai anggaran yang nyaris menyentuh satu miliar rupiah, hasil pekerjaan justru jauh dari kata layak. Retaknya rabat beton dalam waktu singkat menimbulkan dugaan kuat adanya pengurangan mutu material, lemahnya pengawasan, atau bahkan potensi praktik menyimpang yang merugikan keuangan daerah.
“Kalau baru sebulan sudah retak, ini bukan sekadar kesalahan teknis biasa. Ini patut dicurigai,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Masyarakat kini mendesak Inspektorat Kabupaten Kebumen, Dinas PUPR, hingga aparat penegak hukum untuk segera turun ke lokasi. Audit teknis dan audit anggaran dinilai mutlak dilakukan agar publik tidak terus-menerus disuguhi proyek mahal dengan kualitas murahan.
Proyek rabat beton Wonosari–Jatisari ini menjadi tamparan keras bagi wajah pembangunan infrastruktur di Kebumen. Jika dibiarkan tanpa evaluasi dan penindakan tegas, bukan tidak mungkin proyek-proyek serupa akan terus bermunculan habiskan anggaran, tinggalkan kerusakan, dan rakyat kembali jadi korban.
(Puspo Lukito)

