Dugaan Pembiaran Proyek Jalan Babadsari: Warga Menilai DPU Kebumen Abai, Kualitas Jalan Hancur Dalam Hitungan Minggu
Kebumen, Koranjateng.com — Kekecewaan warga Babadsari terhadap proyek pengaspalan jalan poros desa kian memuncak. Jalan yang menghubungkan Babadsari–Ungaran di Kecamatan Kutowinangun itu mengalami kerusakan parah hanya dalam waktu kurang dari satu bulan sejak proyek dinyatakan selesai. Kondisi ini memunculkan dugaan kuat di tengah masyarakat bahwa telah terjadi pembiaran dan lemahnya pengawasan dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kebumen.
Di sejumlah titik, aspal mengelupas, material permukaan terlepas, dan badan jalan menjadi bergelombang. Warga mempertanyakan bagaimana proyek dengan anggaran publik bisa rusak secepat itu, dan mengapa DPU seolah tidak melakukan koreksi sejak awal.
Jawaban DPU Dianggap Tidak Masuk Akal
Pada musyawarah di Balai Desa Babadsari, 26 November 2025, perwakilan DPU Kebumen memberikan penjelasan yang justru menambah kemarahan warga. DPU menyebut hujan dan pepohonan di pinggir jalan sebagai penyebab buruknya kualitas jalan.
Penjelasan tersebut langsung menuai reaksi keras. Warga menilai alasan itu tidak logis dan jauh dari standar analisis seorang ahli konstruksi, sebab faktor cuaca dan vegetasi adalah hal yang seharusnya telah diperhitungkan dalam perencanaan proyek jalan.
“Jika setiap proyek rusak lalu disalahkan ke hujan dan pohon, lalu apa fungsi perencanaan teknis?” ungkap seorang warga dalam forum tersebut.
Pengamat Kebijakan Publik: Jawaban DPU Terlalu Dangkal
Seorang pengamat kebijakan publik Kebumen menilai pernyataan DPU tersebut sebagai bentuk minimnya pertanggungjawaban. Ia mengatakan bahwa penjelasan itu bukan hanya tidak tepat, tetapi juga menunjukkan lemahnya kualitas evaluasi internal.
“Alasan seperti itu terlalu dangkal untuk dikatakan oleh pejabat teknis. Jika kualitas pekerjaan benar, hujan tidak akan merusak jalan dalam hitungan minggu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pernyataan seperti itu hanya memperkuat dugaan adanya pengawasan yang tidak berjalan, atau bahkan indikasi pembiaran terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi standar.
Warga Semakin Geram: Minta Pemeriksaan Hingga Tingkat Pekerjaan Lapangan
Warga meminta DPU bertanggung jawab secara nyata, bukan sekadar memberikan alasan yang dianggap tidak masuk akal. Mereka menuntut pemeriksaan ulang seluruh proses pekerjaan, mulai dari penggunaan material, metode pelapisan, hingga pengawasan harian di lapangan.
“Kalau alasan seperti ini terus dipakai, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan kepada pemerintah,” kata salah satu tokoh warga.
Tekanan Publik Meningkat, DPU Dinilai Perlu Sikap Tegas
Dugaan pembiaran dalam proyek ini kini menjadi perhatian luas. DPU Kebumen didesak untuk mengeluarkan langkah konkret, termasuk audit teknis terhadap kontraktor, klarifikasi resmi yang berbasis fakta, serta rencana perbaikan menyeluruh.
Warga Babadsari menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam dan siap mendorong proses lebih lanjut apabila pemerintah tidak segera bertindak.
“Ini bukan sekadar soal jalan rusak. Ini soal akuntabilitas,” tegas salah satu warga yang hadir dalam musyawarah.
(Puspo Lukito)
